• The Passages

    Aesthetics





    Bener ga kalo estetika identik dengan filsafat seni? Jawabnya bisa benar dan bisa juga tidak. Benar, jika pengidentikan itu didasari oleh pemahaman-pemahaman umum atas adanya persamaan ruang lingkup bahasan dan subjek-subjek pengkajian dari kedua ranah filosofis tersebut. Tidak benar, justru manakala ruang lingkup keduanya yang luas dan beragam serta-merta direduksi kepada pemahaman-pemahaman kontemporer yang kerap bersifat ahistoris, pukul rata, dan cenderung malas mengungkap akar-akar distingsi antar keduanya.

    Telaah Jakob Sumardjo cukup signifikan untuk mengetahui akar distingsi dari kedua bidang yang berasal dari ibu kandung yang sama, yakni filsafat. Bahwa estetika tidak lain sebagai bagian dari filsafat nilai sejajar dengan etika. Namun dalam penggolongan objeknya, estetika masuk dalam ruang lingkup bahasan filsafat manusia sejajar dengan logika, etika, dan antropologi.

    Sebagai bagian dari kajian filsafat, estetika sudah barang tentu bekerja dalam bingkai penalaran yang radikal, spekulatif, menyeluruh, dan merupakan cerminan dari pemikiran filosofis seorang filsuf. Baru pada abad 20 estetika menggeser perannya sebagai filsafat keindahan dan menuju ke arah keilmuan, setelah sebelumnya lebih mengkhususkan diri pada tela'ah atas karya-karya seni saja. Maka estetika abad 20 dikenal juga sebagai estetika modern atau estetika ilmiah karena bekerja dengan bantuan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, antropologi, dll. Nah, filsafat seni merupakan bagian dari studi estetika ilmiah tersebut, dengan konsekuensi surutnya aspek spekulatif yang semakin tergeser oleh pendekatan empiris-ilmiah. Artinya, ciri spekulatifnya terus diperkuat oleh aspek empiris.

    Kendati begitu, tetap kerap terjadi penyamarataan bahwa estetika tidak lain dari filsafat seni, terutama sejak konsepsi keindahan tidak lagi banyak dipertahankan dalam memahami seni. Estetika bukan melulu disibukkan oleh persoalan-persoalan karya seni yang tidak selalu mesti "indah" namun ia juga nyata-nyata memerlukan pisau bedah yang lain untuk merogoh hakikat seni secara mendalam. Maka tampillah filsafat seni untuk memikul tugas demikian, dengan segumpal pertanyaan besar ontologis yang terus bergulir di sepanjang zaman: "apakah seni itu?".


    Istilah "estetika" muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-18, melalui seorang filsuf Jerman, Alexander Baumgarten. Sang filsuf memaksudkan estetika sebagai ranah pengetahuan sensoris, pengetahuan rasa yang berbeda dari pengetahuan logika, sebelum akhirnya ia sampai kepada penggunaan istilah tersebut dalam kaitan dengan persepsi atas rasa keindahan, khususnya keindahan karya seni. (Estetika berasal dari kata aistheton atau aisthetikos, Yunani Kuno, yang berarti persepsi atau kemampuan mencerap sesuatu secara indrawi). Emmanuel Kant melanjutkan penggunaan istilah tersebut dengan menerapkannya untuk menilai keindahan baik yang terdapat dalam karya seni maupun dalam alam.

    Maka menjadi lumrah jika "estetika" banyak diyakini sebagai filsafat tentang nilai-nilai keindahan, sebagaimana diyakini para pendahulu di lapangan pemikiran seni sejak Yunani Kuno (500-300 SM) seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, Plotinus, hingga pemikir di zaman kemudian seperti St. Agustinus. Bahkan pada abad 19, para penyair Romatik dan Victorian, atau bahkan kaum Transendentalis, mengusung keindahan sebagai nilai tertinggi yang diyakini setaraf dengan nilai-nilai keilahian. (Saya jadi teringat akan kata-kata Michelangelo di zaman Renessans: "Karya seni sejati tidak lain dari bayang-bayang kesempurnaan Ilahi"). Pandangan konsepsi keindahan Bernard Bosanquet dan Frank Sibley di penghujung abad tersebut, misalnya, nyata-nyata menelan semua aspek dari nilai-nilai estetika.

    Seiring perjalanan waktu, konsep estetika kemudian berkembang lebih luas. Estetika bukan melulu kualifikasi atas penilaian-penilaian atau evaluasi-evaluasi belaka, melainkan pula menyangkut penelusuran sifat-sifat dan manfaat/kegunaan, ragam penyikapan, pengalaman-pengalaman, dan penikmatan atas nilai-nilai keindahan tersebut. Bahkan kemudian penerapannya tidak lagi dibatasi oleh bingkai konsepsi keindahan semata-mata. Domain estetika menjadi jauh lebih luas ketimbang sekadar penikmatan karya-karya seni secara estetik sekalipun.

    Memudarnya nilai-nilai keindahan sebagai topik sentral dalam teori estetika sejak zaman Yunani hingga Idealisme Eropa abad 19, diyakini banyak kalangan sebagai dimulai oleh estetikus Italia, Benedetto Croce, pada permulaan abad 20. Croce menggeser konsepsi keindahan dengan konsep ekspresi dan mengumandangkan pandangan baru bahwa kreasi artistik dan pengalaman estetik sebagai berasal dari formula ganda; bahwa seni setaraf ekspresi setaraf intuisi, dan bahwa keindahan tak lebih dari ekspresi yang berhasil, karena ekspresi yang gagal bukanlah ekspresi. Atau menurut Melvin Rader, keindahan tiada lain dari essensi yang berhasil diungkapkan. "Ekspresi dan keindahan bukanlah dua konsep berbeda, melainkan sebuah konsep tunggal", cetus Croce.

    Pemikiran Croce setidaknya telah sangat dominan mempengaruhi pemikiran-pemikiran estetika sepanjang tiga dekade. Baru kemudian orang menangkap semacam adanya paradoks: jika seni identik dengan ekspresi, dan keindahan juga identik dengan ekspresi, maka bukankah keindahan itu merupakan esensi dari seni? Namun Croce tetap kukuh pada pendirian bahwa ekspresi dan intuisi merupakan konsepsi dasar dari mana estetika bisa dipahami.

    Selain Croce, pemikiran estetika yang kontras terhadap konsepsi keindahan setidaknya muncul dari dua pemikir seni amat penting di abad 20, Clive Bell dan Roger Fry, pada dekade kedua abad tersebut, yang menggeser konsepsi keindahan dengan manifestasi bentuk signifikan (significant form), yang terkesan Platonik dan terpengaruh kuat oleh filsafat moral G.E. Moore.

    Selain sebagai abad pertama yang menyangkal eksistensi keindahan secara kategoris, abad 20 memang ditengarai oleh kuatnya penolakan keras seniman-seniman kreatif atas konsepsi keindahan; bukan saja dari kaum Dadais, black theatre, theatre of cruelty, bahkan kemudian kaum Pop Art dan gerakan-gerakan sejenis yang lebih kecil, melainkan juga dari kalangan seniman yang jauh lebih serius seperti pelukis-pelukis ekspresionis dan penulis-penulis drama ideologis yang merasa pencapaian keindahan bukan tujuan yang utama dari seni. Mereka lebih memilih menceburkan diri ke dalam intensifikasi pengalaman dan radikalisasi perasaan ketimbang terbuai oleh keindahan.

    Pelopor awal manifesto pergerakan filsafat linguistik modern pada awal tahun 20-an, seperti C.K. Ogden dan I.A. Richards, bahkan menggunakan istilah keindahan dalam forum-forum diskusi demi menunjukkan kualitas emotif dari pergolakan batin. Dan di tahun 40-an, para penerusnya secara olok-olok mempermainkan kata beauty (keindahan) dengan booty (barang rampasan), sekadar untuk menunjukkan bahwa pernyataan apa pun yang terkait dengan keindahan atau apa pun yang dianggap indah sebagai nir-makna (meaningless). Sebuah pertentangan sengit yang sebetulnya mula pertama mencuat kuat dari kaum Realis dan Naturalis Prancis abad 19 seperti Flaubert dan Zola, tentu dalam cara yang berbeda, yang karya-karyanya dipersiapkan justru untuk membuang aspek-aspek keindahan agar visi-visi kebenaran mereka tertemukan.

    TAK pelak, pembahasan tentang konsepsi keindahan dalam karya seni sekalipun kini semakin terasa problematis. Seni tampaknya telah semakin tidak memerlukan lagi menara gading yang malah berpretensi menyembunyikan mutiara hakikat di belantara realitas. Seni cenderung mau membetot kebenaran eksistensial dan eksperiensial dengan melepas topeng-topeng kepalsuan berwajah keindahan. Bahwa "keindahan" masih banyak dipakai, itu bukan melulu tujuan utama melainkan hanya sebuah cara.

    Seni-seni mutakhir tampaknya akan semakin mengganggu, mengusik, menyakiti, memprovokasi bahkan memancing gundah hati. Karena realitas sesungguhnya memang lebih banyak menawarkan warna-warna kelam kehidupan setelah puncak penghambaan manusia atas rasionalitas modern hanya menghasilkan mesin-mesin perang yang memicu perseteruan tak berujung-pangkal di tengah bergelimpangannya bangkai-bangkai dehumanistik manusia. Perang Dunia I dan II menjadi salah-satu bukti terbesar yang memompa frustrasi dan depresi di tengah dekadensi.

    Tonggak-tonggak peradaban dan sandaran nilai-nilai telah menjadi seperti sebongkah kepala babi busuk yang dipamerkan seorang seniman instalasi. Atau seperti semburat orgasme seorang aktor di atas panggung Dadais pada tahun 20-an di Eropa. Atau seperti bongkahan tubuh-tubuh binatang yang disembelih di atas pentas teater kaum Naturalis. Atau seperti lukisan surealis Salvador Dali, Wajah Peperangan, berupa gambar-gambar tengkorak penuh tengkorak. Atau seperti jerit hampa dan geliat tubuh mistik dari sejarah kekelaman estetika Butoh (dance of darkness) para seniman kontemporer Jepang yang meresistensi stagnasi tradisi dengan seabrek citra keindahan estetik yang membokong realitas. Seni menjadi refleksi yang mengumandangkan suara parau dari lapis-lapis kekelaman nihilistik di tengah kekosongan ontologis (ontological void) setelah sandaran-sandaran horizontal bahkan vertikal manusia (di)runtuh(kan). Konsep-konsep estetik diberangus oleh kepalan-kepalan anti-estetik seperti Monalisa yang dikasih kumis dalam karya Dadais berjudul Shaved (bercukur) Marcel Duchamp. Manusia menjadi kembara absurditas yang tak menemukan jawab apa pun setelah terbetot lubang kelam inasionalitas.

    Situasi-situasi nirmakna atas ketiadaan tatanan nilai apa pun kemudian seolah-olah memaksa estetika/filsafat seni mutakhir untuk ditelaah dalam sudut pandang suram, "seperti anak terbelakang yang lahir dari sepasang orang tua glamor, yakni pokok persoalan dan disiplin estetikanya itu sendiri", seperti dikemukakan filsuf seni kontemporer Arthur C. Danto. Filsafat abad 20 bahkan telah menjadi bidang keahlian yang terlalu teknis untuk mampu menggerus dan menemukan kembali struktur-struktur paling fundamental dari pengembaraan pemikiran, bahasa, logika, dan ilmu-pengetahuan. Bahkan "pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang seni sangat tidak jelas dan tidak kena sasaran, sementara jawaban-jawabannya sangat kabur", cetus Danto. Filsuf seni kontemporer yang lain, John Passmore, menyebut situasi kemerosotan peran estetika secara akurat dengan mengedepankan istilah The Dreariness of Aesthetics (Kekeringan Estetika).

    Di sudut lain, kaum Estetika Relasional (relational aesthetics/arts), seperti Michel Serres, terus menggusur esensialisme seni kepada salah-satu trend terpenting pemikiran kontemporer yang menegaskan bahwa keterikatan satu dengan lain hal adalah jauh lebih penting ketimbang hakikat makna dari sebuah obyek (karya seni) yang tinggal sendirian. "Kita tidak lagi memerlukan ontologi melainkan desmologi (desmos = link)," kata Serres. Ia ingin menekankan bahwa upaya pengkajian makna adalah hampa dan sia-sia, dan harus digantikan oleh pengkajian atas proses itu sendiri. Nilai seni tidak lagi ditentukan oleh makna-makna yang terkandung di dalamnya, melainkan oleh apa yang bisa dilakukannya, perbedaan-perbedaan apa yang bisa dirangkulnya, cetus Gilles Deleuze, karena obyek seni tidak lagi ditentukan secara material maupun konseptual melainkan secara relasional, cetus Nicholas Bourriaud.

    Di atas tumpang-tindih pemikiran-pemikiran estetik demikian, memang tidak berlebihan jika pelukis Barnett Newman mencetuskan kata-kata parodi, seperti dikutip di atas, bahwa estetika (baca: filsafat seni) bagi para seniman laksana ilmu burung bagi burung-burung. Burung-burung akan selalu terbang dalam cara dan gayanya sendiri tanpa pernah perlu tahu bagaimana sih ilmu terbang untuk burung-burung? Begitu pun para seniman, mereka akan terus berkarya untuk menggali makna-makna terdalam dari realitas kehidupan dalam cara dan gayanya sendiri-sendiri. Tidak lain untuk menyuarakan gejolak-gejolak esoteris atas apa yang diyakininya sebagai kebenaran sejati, walaupun kerap terasa aneh dan konyol, tanpa harus terlalu terpengaruh oleh tumpang-tindih pemikiran-pemikiran 'orang pintar' yang menyeret seni terlalu ke wilayah diskursivitas-intelektual ketimbang intensifikasi perasaan, insight philosophy ketimbang insight aesthetic, seturut Sussanne K. Langer.



    0 Comment: