• The Passages

    Kajian Ilmiah Senyum Monalisa


    Seulas senyum pada lukisan klasik karya seniman zaman Rennaissans Italia Leonardo Da Vinci (1452 - 1519) telah mempesona begitu banyak pencinta karya seni sejak lukisan itu selesai dibuat pada tahun 1506. Orang yang pernah melihat lukisan itu secara langsung umumnya selalu teringat akan pesona senyuman yang kesannya merekah muncul pada saat orang justru tidak memusatkan tatapan penglihatannya langsung pada wajah Monalisa. Senyum itu selain mempesona sekaligus misterius bagi banyak pencita seni dan dianggap memiliki nilai transendental keagungan yang luar biasa. Salah satu orang yang pertama kali terkesan atas senyuman yang dilukiskan sebagai "memiliki nilai keagungan diluar batas sosok manusia" ("more divine than human") diungkapan oleh Giorgio Vasari, seorang kritikus seni dan penulis terkemuka yang hidup di abad XVI.
    Lukisan sosok Lisa di Antonio Maria Gherardini - nama sebenarnya Monalisa - kini menjadi salah satu koleksi kebanggaan milik Musee de Louvre, Paris - Perancis yang merupakan museum kebudayaan yang terlengkap di dunia.

    Untuk memuaskan rasa penasaran akan senyuman Monalisa seorang pakar neuroscientist dari Universitas Harvard bernama Margaret Livingstone baru-baru ini telah mengungkapkan kajian ilmiah yang mengungkap rahasia dibalik senyum Monalisa pada terbitan journal Science No.17. edisi akhir tahun 2000. Setelah mengkaji dengan seksama lukisan Leonardo Da Vinci, maka Livingstone meyakinkan bahwa senyuman mempesona yang terkesan muncul selintas dengan lamat-lamat pada wajah Monalisa terjadi sebagai efek dari suatu ilusi optik. Dijelaskannya bahwa senyuman itu dapat tertangkap mata justru pada saat seseorang tidak tengah langsung memandang kearah bibir Monalisa.

    Livingstone menjelaskan teorinya dari sudut struktur sistem visual manusia berdasarkan keahliannya di bidang visual processing yang terjadi pada manusia.
    Penjelasan berdasar teori struktur sistem visual manusia :
    Pada saat seseorang tengah memusatkan pandangan dengan pancaindera penglihatan atas suatu obyek di alam, sesungguhnya citra yang dipersepsikan manusia terbentuk dalam 2 area yang dapat dibedakan secara jelas, yakni daerah pusat pada area bidang pandangan - yang disebut fovea - yang berciri dapat membedakan warna dan kesan kontras yang amat tajam. Sedangkan bidang pandang sekeliling diluarnya - atau peripheral area - mempersepsikan pancaindera penglihatan terhadap citra hitam putih, bayang dan efek gerak. Citra ("image") suatu benda menjadi berkesan lebih baur ("blurred") jika pandangan atas peripheral area terikutkan secara keseluruhan dalam pandangan atas suatu obyek.

    Dalam metoda kerja penelitiannya Livingstone melakukan scan atas reproduksi lukisan Monalisa dan menghilangkan seluruhnya ("filtered out") segala image bayang dan efek yang terdapat dalam area pandang peripheral , sehingga akhirnya lukisannya hanya menyisakan citra rincian kontras dan beda warna seperti yang lazim terlihat dalam area fovea. Sebagai akibatnya maka pandangan manusia lalu tidak dapat lagi menangkap adanya senyuman Monalisa. Ketika efek bayang diimbuhkan kembali pada lukisan persis layaknya sebagaimana pandangan manusia mempersepsikan pandangan area peripheral, maka dengan segera munculah kembali senyum Monalisa yang mempesona itu.

    Terobosan kajian ilmiah Margaret Livingstone mendapat dukungan dari ahli sejarah kesenian zaman Renaissans dari Universitas Columbia yang bernama James Beck. Leonardo Da Vinci sebagai seorang seniman serba bisa pada masa Renaissans juga dikenal sebagai arsitek , pematung, selain sebagai inventor ulung yang mendahului pemikiran zamannya. Menurut berbagai penelitian atas karya-karya arsitektur atau patung zaman Rennaissans memang banyak yang mengadopsi efek ilusi optik guna menimbulkan kesan keagungan atau sakral hingga lebih mengesankan setiap orang yang memandangnya.

    Namun bagi sebagian ahli termasuk diantaranya Dr. James Beck tidak sepenuhnya yakin bahwa seniman zaman Renaissans - termasuk Leonardo Da Vinci - berkarya dengan sengaja memasukkan unsur efek ilusi optik untuk membuat lukisannya lebih mempesona. Margaret Livingstone serta James Beck berpendapat efek tersebut boleh jadi awalnya terlebih dahulu tercipta dengan tidak sengaja oleh Leonardo Da Vinci.


    _.::ABS::._


    1 Comment:

    Anonymous said...

    Terima kasih atas informasi menarik